About Me

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

10 Keajaiban Bulan Muharram


SEPULUH KEAJAIBAN MUHARAM

B
ulan Muharam adalah bulan pertama dalam kalender hijriyyah atau kalender Islam dimana untuk tanggal 1 Muharam 0001 adalah saat hijrahnya Nabi Mukhammad SAW dari Mekah menuju Madinah.
Mengapa hijrahnya Nabi dijadikan awal tahun baru Islam, karena sejak itulah Nabi Muhammad dapat mengembangkan Islam secara gemilang dan Islam mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Dari kota Madinah inilah Islam dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Adapun untuk bulan Muharam sendiri Allah telah menjadikannya sebagai salah satu bulan yang istimewa. Karena pada bulan Muharam telah terjadi keajaiban-keajaiban yang menimpa para Nabi terdahulu, diantaranya adalah :

Senin, 06 Agustus 2012

Doa Berbuka Puasa

Doa puasa yang sering kita dengar bahkan mungkin juga sering kita baca, adalah:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


“Ya Allah, untuk Mu aku puasa, kepada Mu aku beriman, dan dengan rezeki Mu aku berbuka. Hilanglah rasa dahaga, tenggorokan pun basah, dan sudah pasti berpahala jika Allah menghendaki.”

Catatan

Doa buka puasa yang masyhur ini adalah gabungan dari dua hadits, yaitu:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


dan,
 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


Adapun kalimat “ وَبِكَ آمَنْتُ ” adalah tambahan yang sama sekali tidak ada dasarnya, meski maknanya bagus.

Hadits Pertama

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buka puasa, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


“Ya Allah, untuk Mu aku puasa, dan dengan rezeki Mu aku berbuka.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Imam Ath Thabarani dalam Al Ausath (7762) dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan (1756)  dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Ibnu Abi Syaibah (109/1) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.

Abu Dawud (2011), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (3747), Al Baghawi (1761), Adh Dhabbi dalam Ad Du’a` (67), dan Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd (1390); dari Mu’adz bin Zuhrah At Tabi’i.

Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat Al Kubra pada biografi Abul Ahwash dari Ar Rabi’ bin Khutsaim At Tabi’i.

Derajat Hadits: Dha’if

Al Haitsami berkata,”Diriwayatkan Ath Thabarani dalam Al Ausath. Di dalam sanadnya ada Dawud bin Az Zibriqan. Dia adalah dha’if.”[1]

Imam An Nawawi berkata, “Demikian diriwayatkan secara mursal.”[2]

Al Burhanfuri dalam Kanzu Al ‘Ummal (18056), “Hadits mursal.”

Ar Rafi’i berkata tentang hadits Abu Dawud, “Dia adalah hadits mursal.” Dan tentang hadits Ath Thabarani, “Sanadnya lemah. Di dalamnya terdapat Dawud bin Az Zibriqan, dia itu matruk (ditinggalkan).”[3]

Al Albani mendha’ifkan hadits ini dalam Dha’if Sunan Abi Dawud (2358) dan Dha’if Al Jami’ Ash Shaghir (9831).

Catatan

Ibnul Mulaqqin berkata, “Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad hasan (bagus) tetapi mursal. Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in.”[4]

Al Albani menghasankan hadits ini dalam Misykat Al Mashabih (1994).

Syaikh Abdul Qadir Al Arna`uth berkata, “Mursal, namun ia mempunyai syawahid (beberapa penguat) yang menguatkannya.”[5]

*   *   *

Hadits Kedua

Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mengatakan, jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buka puasa, beliau membaca:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


“Hilanglah rasa dahaga, tenggorokan pun basah, dan sudah pasti berpahala jika Allah menghendaki.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Al Husain dari Al Husain bin Waqid dari Marwan bin Salim Al Muqaffa’ dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[6]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam An Nasa`i dalam As Sunan Al Kubra (3329), Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (3748), Ad Daraquthni (2302), Al Hakim (1484), Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al Yaum wa Al Lailah (477), dan Ibnu Abi Ad Dunia (29); juga dari Ibnu Umar.

Derajat Hadits: Hasan

Al Hakim (1484) berkata, “Ini adalah hadits shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.”

Al Albani menghasankan hadits ini dalam Mukhtashar Irwa` Al Ghalil (920), Misykat Al Mashabih (1993), Shahih Sunan Abi Dawud (2357), dan Shahih Al Jami’ Ash Shaghir (8807).

*   *   *

Kesimpulan

Doa buka puasa pada hadits pertama, meski ada yang mendha’ifkan, namun juga ada yang menghasankan. Artinya, derajat kedha’ifannya tidaklah “terlalu.”

Sebaiknya doa buka puasa yang dibaca cukup hadits yang kedua saja. Selain lebih ringkas, ialah yang paling shahih di antara hadits hadits doa buka puasa yang lain.

Jika hendak menggabungkan doa buka puasa, sebaiknya tidak menyertakan kalimat “ وَبِكَ آمَنْتُ ”, karena ia hanyalah tambahan dan tidak termasuk dalam hadits doa buka puasa ini. Wallahu a’lam bish shawab.

_______________________________

[1] Ma’jma’ Az Zawa`id (4892).

[2] Al Adzkar (545).

[3] At Talkhish Al Habir (912).

[4] Khulashatu Al Badr Al Munir (1126).

[5] Raudhatu Al Muhadditsin (4729).

[6] Sunan Abi Dawud, Kitab Ash Shaum, Bab Al Qaul ‘Inda Al Ifthar, hadits nomor 2010.

Rep/Red: Shabra Syatila
Sumber: Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

Kasih Sayang Rasulullah pada Fakir Miskin

Salah satu yang menonjol dari Rasulullah SAW adalah sikap beliau yang lemah lembut dan sangat berempati dengan fakir miskin. Sebagai seorang pemimpin, beliau sendiri mengesankan diri sebagai orang miskin. Sehari-hari beliau memakai pakaian katun atau wol yang sederhana, tinggal di rumah yang sederhana dan makan minum dengan hidangan yang sederhana pula.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu yang sedang risau. Setelah berjumpa dengan Rasulullah, tamu tersebut pun berkata: "Wahai utusan Allah, celakalah aku!" Serunya.

Mendengar keluh kesah tamunya tersebut Rasulullah pun kemudian bertanya: "Apakah gerangan yang membuatmu celaka?”

Orang itu kemudian menjawab: "Aku berhubungan (intim) dengan istriku di (di siang hari) bulan Ramadhan".

Mendengar pengakuan sang tamu Rasulullah pun bersabda: "Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?"

Orang tersebut menjawab: "Tidak".

Rasulullah bersabda: "Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?"

Orang itu pun menjawab, "Tidak".

Kemudian Rasulullah memerintahkan si tamu tersebut untuk duduk dan beliau pun duduk

Tak berselang lama, seorang sahabat yang mengirim satu bungkus berisi korma kepada Nabi. Rasulullah kemudian memberikan satu bungkus korma itu kepada tamu yang sedang duduk seraya bersabda: "Bersedekahlah!".

Tanpa diduga orang itu berkata "Wahai Rasulullah, tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami.”

Mendengar pengakuan si tamu tersebut Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi seri beliau. Kemudian beliau bersabada: "Ambillah korma ini, dan  berilah makan keluargamu."

Kisah ini menunjukkan betapa besar belas kasih Rasulullah kepada kaum fakir dan miskin.

Rasulullah SAW merupakan figur pemimpin yang layak untuk diteladani oleh setiap umat Islam. Dalam diri beliau memang berkumpul seluruh akhlak yang terpuji sehingga oleh Allah SWT beliau dikaruniai gelar sebagai uswatun hasanah atau suri tauladan yang bai

Bahayanya Sifat Kikir dan Keutamaan Shadaqah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh. Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".

Perempuan itu menjawab: "Wahai Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri. Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".

"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang yang kikir waktu hidup di dunia. Dan tempat ini adalah tempat golongan orang2 yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku shadaqahkan selama hidupku di dunia. Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab, "Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."

"Wahai Rasulullah, kemudian akupun mendatangi ayahku yang pada saat itu sedang menuang air di telagamu.., dan aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, ibuku saat ini sedang menderita dan ayah tahu bahwa ibu rajin beribadah dan selalu taat pada ayah, berikanlah seteguk air dari telaga ini untuk ibu.." Ayahku menjawab, "Wahai anakku, air telaga ini haram bagi orang2 yang kikir seperti ibumu.."

"Wahai Rasulullah, karna belas kasihanku kepada ibuku maka akupun nekat mengambilkan segelas air dari telagamu itu untuk kuberikan kepada ibuku. Akan tetapi pada saat kuberikan air itu kepada ibuku, tiba-tiba terdengarlah olehku suara tanpa rupa, "Semoga Allah melepuhkan tanganmu." Kemudian akupun terbangun dan aku melihat tangan kananku ini melepuh, wahai Rasulullah.."

Rasulullah bersabda, "Begitu bahayanya sifat kikir ibumu itu.." Kemudian Beliau pun berdoa kapada Allah, maka sembuhlah tangan perempuan itu.

Demikianlah kisah tentang bahayanya sifat kikir dan keutamaan shadaqah. Semoga kita dapat memetik manfaatnya. (J. Mu'tashim Billah - Mustofa Hasyim)

Minggu, 22 Juli 2012

MANFAAT KURMA BAGI TUBUH


MANFAAT  BERBUKA DENGAN KURMA



 



Selama bulan puasa, kurma atau dalam bahasa arab disebut “Tamr” (untuk kurma kering) atau “Rathb” (untuk kurma segar atau basah) merupakan ikon berbuka yang tak tergantikan. Mengapa harus buah yang kecil ini?. Ada apa dengan buah asal timur tengah ini? Apa kandungannya dibandingkan dengan buah yang lain?

Dilihat dari sisi agama, buah kurma merupakan buah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. untuk dijadikan  “pembatal” pertama (berbuka) ketika menjalankan ibadah puasa.
Melalui hadisnya, Rasulullah menunjuk langsung buah ini untuk dijadikan bahan  berbuka puasa Rasulullah SAW bersabda:
وعن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفطر قبل أن يصلي على رطبات ، فإن لم تكن رطبات فتميرات ، فإن لم تكن تميرات حسا حسوات من الماء ” رواه أبو داود والترمذي .

“Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka sebelum shalat (maghrib) dengan memakan beberapa ruthab (kurma segar/basah), apabila tidak mendapatkan mendapatkannya maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan apablia tidak mendapatkannya maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.”

Di hadis yang lain dapat kita temukan petunjuk langsung beliau
” إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر ، فإنه بركة ، فإن لم يجد تمرا فالماء ، فإنه طهور ” رواه أبو داود والترمذي .

”Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena dia adalah berkah, apabila tidak mendapatkan kurma maka berbukalah dengan air karena dia adalah bersih.” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud rahimahumallah)

Kita bisa berkata : “ wajar kalau kurma mendapat “porsi” utama di antara buah yang lain, bukankah kita harus mengikuti jejak Rasul?”

Namun bagaimana menurut para medis, kandungan buah kurma ini?

Setelah satu hari penuh berpuasa maka tubuh sangat memerlukan zat gula untuk memulihkan tenaga dan menghilangkan lapar dengan cepat, namun kebutuhan akan zat gula harus dipenuhi dengan pelan dan jaringan tubuh khususnya lambung harus dibangunkan dengan lembut.

Dalam keadaan lambung dan usus kosong, tubuh kita  membutuhkan sukrosa dan glukosa sekaligus, kedua unsur makanan ini disamping cepat dicerna juga cepat masuk ke dalam darah dan dalam hitungan detik mampu diserap tubuh sehingga dua tujuan dapat tercapai sekaligus yakni menghilangkan rasa lapar dan haus.

Bahkan tidak hanya sampai disitu saja, para ahli telah meneliti kandungan buah kurma ini. Ditemukan kandungan dalam sepotong buah kurma terdapat 20-24% air, 70-75% zat gula, 2-3% protein 8,5% serat dengan kadar lemak yang rendah. Kandungan ini setara dengan 85-87% dari berat sepotong buah kurma.

Lain halnya dengan Ruthb (kurma segar), satu buah ruthab mengandung 65-70% air, dari berat bersihnya, 24-58 % zat gula, 2-2,1 % protein, 5,2 % serat dan kadar lemak yang sedikit.

Lebih jauh lagi, Dr. ‘Abdurrouf Hisyam dan Dr. ‘Ali Ahmad asy-Syahat menjelaskan sebagai berikut:

Sabtu, 21 Juli 2012

Keadaan Tubuh Selama Puasa

Ini Yang Terjadi dengan Tubuh Kita Selama Berpuasa


Ini Yang Terjadi dengan Tubuh Kita Selama Berpuasa
Anatomi tubuh. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Tak perlu takut kehabisan tenaga saat berpuasa, sehingga Anda memilih untuk bermalas-malasan dan mengurangi aktivitas fisik dari biasanya. Selama berpuasa, tubuh Anda menghasilkan energi sendiri dengan membakar sumber daya yang disimpan oleh tubuh. Simpanan ini terbuat dari kelebihan lemak, karbohidrat, dan gula untuk menghasilkan energi.

Hati adalah organ yang paling signifikan dalam proses ini, mengubah lemak menjadi zat kimia yang disebut keton tubuh berupa tiga senyawa larut dalam air yang kemudian digunakan sebagai sumber energi.

Justru, tubuh mengambil banyak manfaat dari puasa. Detoksifikasi adalah salah satu manfaat terpenting dari puasa. Sebuah proses yang teratur, detoksifikasi terjadi saat usus besar, hati, ginjal, paru-paru, kelenjar getah bening, dan kulit menghilangkan atau menetralkan racun. Proses ini dipercepat saat puasa karena tubuh memecah lemak. Bahan kimia dan racun yang diserap dari makanan dan lingkungan yang disimpan dalam cadangan lemak, dilepaskan selama puasa.

Puasa juga menjadi penyembuh bagi tubuh, pikiran, dan jiwa dengan cara yang simultan. Pada tingkat fisik, energi dan sumber daya dialihkan dari sistem pencernaan (yang terus-menerus dilakukan saat kita tak berpuasa) ke sistem kekebalan tubuh dan proses metabolisme sehingga kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dan membangun kembali berjalan optimal.

Studi medis menunjukkan bahwa selama puasa juga bermanfaat untuk mengendalikan pertumbuhan jaringan yang abnormal pada tubuh, seperti tumor. Sang tumor menjadi kelaparan untuk nutrisi dan karenanya lebih rentan untuk dipecah dan dikeluarkan dari tubuh.

Puasa memungkinkan tubuh untuk memanfaatkan sumber daya dan fokus pada pembangunan kembali pada tingkat mikroskopis seperti DNA dan RNA menjadi lebih efisien dalam mentranskripsikan protein dan jaringan yang dibutuhkan tubuh.

Perubahan lain dalam tubuh selama puasa termasuk sedikit penurunan suhu inti tubuh karena penurunan tingkat metabolisme dan fungsi tubuh secara umum. Kadar gula darah juga turun karena tubuh menggunakan cadangan glikogen dalam hati dan angka dasar metabolik (BMR) dikurangi dalam rangka untuk menghemat energi.

Sistem pencernaan, yang sangat sering kelebihan beban, dan tak henti-hentinya disuruh bekerja, juga membersihkan sendiri sehingga pencernaan lebih efisien dan penyerapan nutrisi lebih optimal. Di sisi lain, lapisan lambung dan usus mengikis masalah 'sampah' tubuh. Proses lain yang menopang infrastruktur dasar tubuh juga meningkat selama puasa, misalnya produksi hormon meningkat serta pelepasan hormon anti-penuaan.

Alhamdulillah...Islam punya solusi untuk kesehatan jasmani dan rohani.


*) Disarikan dari artikel ilmiah di Majalah Emel yang terbit di Inggris

Jumat, 13 Juli 2012

MENIKMATI KRITIK DAN CELAAN

Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.
Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.
Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.
Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.
Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.
Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.
Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.
Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.
Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.
Allah SWT berfirman, "Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Yunus [10] : 65)
Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!
Padahal, Allah Azza wa Jalla telah berfirman, "Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS. Ali ‘Imran [3] : 26)

MENGENDALIKAN EMOSI

MENGENDALIKAN EMOSI
Allah SWT telah memberi karunia kepada manusia berupa perasaan hati atau emosi. Emosi akan bereaksi oleh sesuatu yang dilihat atau dirasakan. Kegembiraan yang berlebihan maupun kesedihan dan kekecewaan yang mendalam menyebabkan luapan emosi.
''(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu.'' (QS Al-Hadiid (57): 23).
Fenomena di masyarakat saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Orang dengan mudah melampiaskan emosi. Karena suatu hal kecil yang tidak berkenan, timbul tindakan berlebihan karena kemarahan atau kekecewaan. Dalam hal ini nafsu lebih diperturutkan daripada hati nurani. Hanya keteguhan iman yang akan membuat seseorang bisa menguasai emosi dengan izin Allah SWT. Dengan iman yang teguh, semua qadha dan qadar akan diterima.
''Sesungguhnya marah itu merusak iman sebagaimana benda yang pahit menghancurkan madu.'' (HR Bukhari). Pada saat suatu keinginan dapat tercapai, acap kali kita terlena, kegembiraan berlebihan diekspresikan. Tidak disadari bahwa apa yang telah dicapai merupakan karunia Allah SWT. Seyogianya rasa syukur harus diungkapkan, tidak sekadar mengucapkan Alhamdulillah. Karunia yang diberikan atas keinginan yang tercapai harus dimanfaatkan di jalan-Nya.
''Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'' (QS Ibrahim (14): 7).

Makna Isra' Mi'raj

Makna Isra' dan Mi'raj
Perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.
Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.
Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya." Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.

YANG LALU BIARLAH BERLALU


Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri Anda dari bayangan masa lalu! Apakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingatlah, keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam al-Qur'an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, "Itu adalah umat yang lalu." Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Tazkiyatun Nafs

Dialah (Allah) yang mengutus untuk seluruh bangsa seorang Rasul dari antara mereka untuk membacakan ayat-ayat kepada mereka, mentazkiyah mereka, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah" (QS. Al-Jum'ah: 2)
Ayat di atas menunjukkan bahwa tazkiyatun nafs, merupaka salah satu missi semua Nabi dan Rasul, khusus Rasulullah Muhammad SAW, di samping menyampaikan ajaran-ajaran Allah.
Islam mengakui bahwa pada dasarnya manusia lahir dalam keadaan suci, yakni suci dari segala kotoran dan dosa. Yang ada pada bayi yang lahir itu adalah fitrah, yakni potensi beriman, berislam dan berihsan kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya.
Oleh karena pengaruh kedua orangtuanya, serta lingkungannya, seseorang menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi, yang menyimpang dari tauhid, menyimpang dari Islam, Iman dan Ihsan. Pengaruh keluarga dan lingkungan yang tidak kondosif untuk Iman, Islam dan Ihsan itu telah merusak fitrah seseorang, dan mengotori jiwa seseorang. Untuk itu, Rasulullah diutus untuk mengembalikan manusia pada fitrah, dan untuk mensucikan kebali jiwa manusia dari segala yang mengotori jiwanya.
Missi setiap Rasul Allah untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya dan mensucikan jiwa dari segala yang mengotorinya itulah yang disebut Tazkiyatun Nafs.
Makna dan Tujuan Tazkiyatun Nafs.
Tazkiyatun Nafs berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata tazkiyah dan nafs. Secara kebahasaan (etimologis) tazkiyah berarti mensucikan, menguatkan dan mengembangkan. Sedangkang nafs adakah diri atau jiwa seseorang.
Dengan demikian istilah tazkiyatun nafsi memiliki makna mensucikan, menguatkan dan mengembangkan jiwa sesuai dengan potensi dasarnya (fitrah), yakni potensi Iman, Islam dan Ihsan kepada Allah.
Berdasarkan makna itu pula tazkiyatun nafs bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yakni fitrah tauhid, fitrah Iman, Islam dan Ihsan, disertai dengan upaya menguatkan dan mengembangkan potensi tersebut agar setiap orang selalu dekat kepada Allah, menjalankan segala ajaran dan kehenda-Nya, dan menegakkan tugas dan missinya sebagai hamba dan khalifah-Nya di muka bumi.
Dengan tazkiyatun nafs, seseorang dibawa kepada kualitas jiwa yang prima sebagai hamba Allah, sekaligus prima sebagai khalifah Allah. Artinya dengan tazkiyatun nafs, seseorang menjadi ahlul ibadah, yakni orang yang selalu taat beribadah kepada Allah dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya serta menjadi khalifah, yakni kecerdasan dalam missi memimpin, mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Allah untuk kerahmatan bagi semua makhluk.

Aplikasi Tazkiyatun Nafs menurut Al-Quran dan Sunnah
Dengan makna sebagaimana diuraikan di atas, tazkiyatun nafs tidak sekadar bermakna penyucian jiwa dan sembarang penyucian jiwa menurut kehendak setiap orang. Tetapi tazkiyatun nafs harus dilakukan sesuai dengan cara-cara yang telah dituntunkan oleh agama Allah sebagaimana disampaikan oleh Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Mengapa demikian? Karena tazkiyatun nafs adalah penyucian jiwa dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Yang Maha Suci dengan sifat Subbuh (Maha Suci dengan Segala Sifat Kesempurnaan-Nya) dan Quddus (Maha Suci dengan terhindarnya dari segala sifat kekurangan-Nya). Maka cara-cara melakukan tazkiyah pun harus memenuhi apa yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasulullah.
Tazkiyatun Nafs, meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

Akhlak kepada Allah

Mudah-mudahan Allah SWT yang Maha Mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus diperbaiki, memberitahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, tidak dikalahkan oleh kebosanan, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu. Dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yang dapat diwariskan kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah keindahan akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan. Kedudukan di sisi Allah tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata. Tapi semua kemuliaan seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling dicintai oleh Allah, yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangan Allah dan yang akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas, yaitu orang yang paling mulia akhlaknya.

Walhasil sehebat apapun pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta kita, setinggi apapun kedudukan kita, jikalau akhlaknya rusak maka tidak bernilai. Kadang kita terpesona pada topeng duniawi tapi segera sesudah tahu akhlak buruknya, pesona pun akan pudar.
Yakinlah bahwa Rasulullah SAW diutus kedunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini ditanyakan sendiri oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat, "Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?" Rasul menjawab, "innama buitsu liutamimma makarimal akhlak", "Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah utnuk menyempurnakan akhlak."

Sayangnya kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya terbentuk pada senyuman dan keramahan. Padahal maksud akhlak yang sebenarnya jauh melampaui sekadar senyuman dan keramahan. Karenanya penjabaran akhlak dalam perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yang terpecah-pecah, semua terintegrasi dalam satu kesatuan utuh, termasuk bagian akhlak kita kepada Allah.

Akhlak kita kepada Allah SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang menjaga akhlaknya kepada Allah, hatinya benar-benar putih seperti putihnya air susu yang tidak pernah tercampuri apapun. Bersih sebersih-bersihnya. Bersih keyakinannya, tidak ada sekutu lain selain Allah. Tidak ada satu tetes pun di hatinya meyakini kekuatan di alam semesta ini selain kekuatan Allah SWT sehingga ia sangat jauh dari sifat munafik.

Bagaimanakah sifat orang munafik itu? Imam Al Ghazali menuturkan ucapan Imam Hatim Al Ashom tentang seorang ulama shalih ketika mengupas perbedaan antara orang mukmin dengan orang munafik :

"Seorang mukmin senantiasa disibukkan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang munafik disibukkan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.

Seorang mukmin berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada Allah SWT.

Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang mengancam dia ada dalam genggaman Allah, di lain pihak orang munafik justru takut kepada siapa saja kecuali takut kepada Allah, naudzubillaah, yang tidak dia takuti malah Allah SWT.

Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara orang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya.

Seorang mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara orang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.

Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada Allah, sementara seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan khalayak yang tidak ingat kepada Allah.

Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan seorang munafik mencabuti seraya mengharapkan panen.

Seorang mukmin memerintahkan dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya untuk memperbaiki, sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzubillaah."

Ah, sahabat. Nampak demikian jauh beda akhlak antara seorang mukmin dengan seorang munafik. Oleh karenanya kita harus benar-benar berusaha menjauhi perilaku-perilaku munafik seperti diuraikan di atas. Kita harus benar-benar mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran dan keagungan Allah. Kita harus yakin siapa pun yang punya jabatan di dunia ini hanyalah sekedar makhluk yang hidup sebentar dan bakal mati, seperti halnya kita juga. Jangan terperangah dan terpesona dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan, sebab itu cuma tempelan sebentar saja, yang kalau tidak hati-hati justru itulah yang akan menghinakan dirinya.

MENAHAN AMARAH

Amarah adalah satu naluri alamiah yang melekat pada manusia. Ia tidak bisa dihilangkan atau dipisahkan dari manusia. Selama manusia hidup, selama itu pula amarah akan menemaninya.
''Dan bersegeralah kamu menuju ampunan Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya, baik di waktu lapang atau sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'' (QS Ali-Imran: 133-134).
Allah SWT menetapkan amarah untuk menjadi satu alat uji ketakwaan dan keimanan manusia selama hidupnya. Manusia yang tak sanggup menahan amarahnya adalah manusia yang belum mampu menegakkan bingkai ketakwaannya.
Manusia yang terbakar amarah akan melakukan tindakan-tindakan di luar kewajaran dan nalar yang sehat. Saat amarah merasuk ke dalam pikirannya, tidak ada lagi ruang untuk membedakan mana hal yang baik atau jelek. Padahal, Allah SWT menjanjikan pahala yang tak ternilai di hari akhir nanti bagi manusia yang mampu menahan amarahnya.

Kamis, 12 Juli 2012

Kumpulan do'a-doa Ramadhan

"BERKAHILAH AKU DI BULAN RAJAB, BULAN SYA'BAN DAN SAMPAIKAN AKU PADA BULAN RAMADHAN"
Itulah doa Nabi Muhamad SAW. pada beberapa bulan menjelang Ramadhan.

Label

ASMAUL HUSNA

Adsense Indonesia
Batman Begins Background
 
Copyright© 2011 Memanfaatkan Potensi | Template Blogger Designer by : Masawienk' |
Template Name | Uniqx Transparent : Version 1.0 | Zero-Nine.Net